Kaleidoskop Perserikatan Bangsa Bangsa 2011

Pada hari pertama di tahun 2012 ini, saya mencoba untuk berbagi sebuah informasi kaleidoskop yang dirilis Perserikatan Bangsa Bangsa di bulan lalu, untuk memberikan highlights dari berbagai kejadian isu global dan PBB di tahun 2011. Berikut adalah transkrip dari video kaleidoskop tersebut yang sudah saya terjemahkan secara kasar ke Bahasa Indonesia.

Tahun 2011, populasi bumi ke tujuh-miliar lahir di dunia yang penuh kontradiksi dan syarat akan perubahan ini. Terdapat ketersediaan pangan yang cukup untuk semua, namun masih ada saja satu miliar jiwa yang menderita kelaparan. Sepanjang tahun ini, masyarakat di seluruh dunia mencari kebebasan dari tekanan dan kesempatan-kesempatan hidup yang lebih baik bagi mereka dan keluarga mereka.

Ban Ki-moon, “Tujuh miliar orang kini berharap pada para pemimpin dunia. Mereka butuh solusi. Mereka menuntut kepemimpinan yang baik. Mereka ingin kita untuk beraksi, menyelamatkan bumi ini, mengentaskan kemiskinan, memajukan pembangunan ekonomi, serta berbagai perjuangan lainnya.”

Di Libya, pasukan pengamanan Kolonel Khaddafi mulai melakukan penembakan kepada para demonstran damai. Lebih dari 600.000 orang harus mengungsi dari kekacauan tersebut, dan Ban Ki-moon mendesak masyarakat internasional untuk melindungi masyarakat sipil di Libya tersebut. Ban Ki-moon dalam Dewan Keamanan, “Saya kerap menyatakan bahwa kekerasan harus dihentikan.”

Pada bulan Maret lalu, Dewan Keamanan mengesahkan sebuah resolusi dengan 10 suara menyetujui dan 5 abstain, untuk melaksanakan berbagai langkah yang diperlukan untuk mencegah serangan lainnya dan hilangnya nyawa masyarakat sipil di Libya. Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Susan Rice, “Dewan Keamanan telah mengesahkan penggunaan aksi militer, termasuk pengabsahan no-fly zone, untuk melindungi masyarakat sipil.”

Segera setelahnya, NATO melakukan pengeboban, dan berbagai agensi kemanusiaan PBB mengirimkan bantuan-bantuan yang penting bagi masyarakat sipil. Dengan angka korban yang terus meningkat, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin, “segala aksi yang melebihi mandat pada resolusi (tersebut) atau ketidaksesuaian penggunaan aksi militer tidak bisa diterima.

Di bulan Oktober, masyarakat Libya menyaksikan kematian diktator Libya dan merayakannya dengan tembakan senjata dilatari oleh hancurnya kota dan sesaknya rumah sakit oleh masyarakat yang terluka. Sekretaris-Jenderal PBB dan Presiden Majelis Umum, Nassir Abdulaziz Al-Nasser, berkunjung ke Libya. Ban Ki-moon, “Jalan ke depan bagi Libya dan masyarakatnya akan sulit dan penuh tantangan. Sekarang adalah saatnya bagi seluruh masyarakat Libya untuk bersatu.”

Di Suriah, tekanan diberikan pada Presiden Al-Assad untuk mundur setelah ribuan orang terbunuh pada demonstrasi pro-demokrasi. Majelis Umum menyetujui sebuah resolusi yang menyalahkan Suriah atas tindak kekerasan yang terjadi dan menyerukan pada pemerintah Suriah untuk menghentikan segala tindakan yang mengekang hak asasi manusia.

Masyarakat di Ramalah bersorak sorai di jalanan setelah mendengar berita bahwa Presiden mereka Mahmoud Abbas telah memberikan pendaftaran Palestina untuk mendapatkan keanggotaan penuh PBB kepada Ban Ki-moon. Mahmoud Abbas dalam Majelis Umum, “Setelah 63 tahun tragedi, cukup, cukup, cukup! Kita telah sampai pada (kebangkitan) Palestina, waktu untuk kemerdekaan.”

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, “Kita harus berhenti menegosiasikan negosiasi. Marilah kita segera maju, dan menegosiasikan perdamaian.” Namun pada saat itu di lapangan, di wilayah Palestina, penghancuran komplek perumahan untuk pembangunan gedung tempat tinggal Israel terus berlanjut.

UNESCO memberikan keanggotaan penuh kepada Palestina. “Keputusan ini berlaku.” Menyebabkan mundurnya Amerika Serikat dari pembiayaan organisasi tersebut, perwakilan Amerika Serikat “… sebagai simbol dari penentangan kami yang kuat atas resolusi ini.”

Pada bulan Juli, sebuah negara baru Sudan Selatan menjadi Negara Anggota PBB ke-193. Setelah puluhan tahun perang sipil di negara terbesar Afrika tersebut, PBB membantu mengadakan sebuah referendum antara penyatuan atau pemisahan. Di umurnya yang melebihi 100, Rebecca Kadi adalah salah satu yang paling tua yang mengikuti referendum tersebut. Cucu dari Rebecca Kadi, “Ia bilang pada saya setelah referendum, jika saya mati, saya akan sangat bahagia karena telah menyelesaikan semua.” Lebih dari 99% mendukung pemisahan diri, dan pada 9 Juli, negara baru ini lahir.

Ban Ki-moon di Dewan Keamanan, “Sebagaimana sebuah negara baru, Sudan Selatan membutuhkan bantuan. Bersama-sama, Selatan dan Utara harus menemukan kesamaan satu sama lain di masa depan sebagai rekan, bukan musuh.” Namun, ketegangan masih terus terjadi di wilayah perbatasan. 4200 pasukan Ethiopia disahkan oleh Dewan Keamanan sebagai pasukan penjaga perdamaian di lokasi.

Di tahun 2011, lebih dari 120.000 pasukan penjaga perdamaian PBB diutus ke 16 misi di 4 benua. Puluhan meninggal pada saat bertugas. Di Afghanistan, tujuh staf PBB terbunuh ketika 3000 orang melakukan protes terhadap pembakaran Al-Quran di Amerika Serikat, dan berakhir ricuh. Beberapa hari setelagnya, sebuah pesawat jatuh di Republik Demokratis Kongo dan menewaskan 35 personil PBB. Serta di Nigeria, 18 orang terbunuh akibat serangan teroris di kantor PBB di Abuja.

Pada pemilu presiden di Liberia, misi PBB mengirimkan pasukan darat dan udara untuk meningkatkan keamanan dan melindungi masyarakat sipil. Walaupun terdapat konflik didalamnya, para pemilih tetap melakukan pemilu. Presiden Ellen Johnson Sirleaf tidak hanya terpilih kembali, namun ia juga memenangkan Nobel Perdamaian bersama tiga aktivis perempuan lainnya.

Penangkapan mantan presiden Pantai Gading Laurent Gbagbo di bulan April dan juga penangkapan mantan Jenderal militer Serbia Bosnia di bulan May, membuktikan bahwa era impunitas telah berhasil, memperlihatkan kekuatan dari hukum internasional.

Haiti perlahan membaik dari epidemi besar kolera. Satu tahun setelah gempa besar, 40% dari 10 juta meter kubik reruntuhan telah disingkirkan. Program Pembangunan PBB (UNDP) dan agensi PBB lainnya, menciptakan lapangan pekerjaan untuk membangun rumah-rumah dan sekolah. UNICEF membawa suplai bagi 140.000 anak-anak untuk bisa bersekolah. Presiden Haiti, Michel Martelly, “Perlahan, kita akan lebih maju dan membawa anak-anak kita ke sekolah tanpa biaya.”

Thailand didera banjir terparah dalam 70 tahun. Hujan lebat yang jarang turun sebelumnya menyebabkan sebagian daerah negara tersebut kebanjiran, termasuk Bangkok.

Sebuah laporan yang dirilis Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim memperingatkan bahwa pemanasan global akan menyebabkan cuaca yang ekstrim, dan berarti lebih banyak banjir, gelombang panas, dan kekeringan.

Di Somalia, perang dan kekeringan terparah selama dekade sangat membahayakan satu juta setengah orang. Program Pangan Dunia (WFP) membangun pusat pemberian pangan untuk jutaan orang yang membutuhkan. Direktur Eksekutif WFP, Josette Sheeran, “Memang hal ini sangat bahaya dan beresiko, namun kami perlu menggapai orang-orang (yang membutuhkan).”

Ratusan ribu masyarakat Somalia harus berpergian ke Kenya selama berminggu-minggu, namun banyak yang tidak berhasil (dan meninggal). Kamp Pengungsi Dadaab, terbesar di dunia, berubah menjadi kota terbesar ketiga di Kenya, dengan hampir setengah juta warganya. Agensi pengungsi PBB UNHCR membawa ribuan tenda untuk pengungsi melalui udara.

Kelaparan telah melanda Somalia, namun akibat dari kekeringan melanda seluruh semenanjung Timur Afrika. Para petani kehilangan setengah dari hewan ternaknya, serta kehabisan bahan pangan. Helen Akai, “Kami hanya bisa hidup dari buah pohon palem, tidak ada lagi hal lainnya yang bisa dimakan.” UNICEF menambah akses terhadap air dan nutrisi, namun perencanaan dan investasi adalah hal-hal yang diperlukan untuk membentuk ketahanan pangan.

Planet ini seharusnya bisa dengan mudah memberikan makan tujuh miliar orangnya, namun jutaan orang masih saja kelaparan. Harga pangan yang tinggi dan tidak bisa diprediksi telah berdampak pada negara-negara miskin, terutama selama krisis ekonomi global. Kordinator Penanganan Kedaruratan PBB, Valerie Amos, berkunjung ke Korea Utara, di mana sepertiga anak-anaknya mengidap kekurangan gizi kronis.

25 tahun setelah Chernobyl, sebuah tragedi di Jepang menimbulkan banyak dampak buruk. Sebuah gempa berkekuatan 9 SR yang juga memicu tsunami, telah merusak reaktor nuklir Fukushima dengan parah. Para pekerja yang sangat berdedikasi berupaya untuk mencegah dampak yang lebih parah, namun area yang cukup luas tetap terkontamintasi dengan menyebarnya radiasi. Hal ini lalu diperhitungkan pada instrumen sensitif CTBT, Organisasi Traktat Pelarangan Tes Nuklir PBB. Para ahli dari Agensi Energi Atom Internasional (IAEA) mendesak Jepang untuk mengamankan wilayah permanen untuk menampung limbah radioaktif.

Ketika mengunjungi para korban, Ban Ki-moon berjanji untuk menempatkan keamanan nuklir sebagai prioritas utama dalam agenda internasional, “Kecelakaan nuklir terjadi tanpa batasan, kita harus melihat keamanan nuklir sepenting senjata nuklir.”

Ketegangan atas ambisi nuklir Iran juga terus meningkat, semenjak IAEA melaporkan bahwa negara tersebut tengah mengerjakan sebuah desain bom nuklir dan mungkin masih melakukan penelitian rahasia.

Setelah terpilih kembali sebagai Sekretaris-Jenderal dimulai dari tahun 2012, Ban Ki-moon mendeklarasikan bahwa pembangunan berkelanjutan yang bisa mengentaskan kemiskinan dan menjaga lingkungan, sebagai prioritas utamanya. Seorang aktivis lingkungan berusia 13 tahun, Felix Finkbeiner menyerukan kepada para politikus untuk berhenti berbicara dan mulai menanam, “Sekarang adalah waktunya untuk kita bekerja bersama, menyatukan kekuatan, tua dan muda, kaya dan miskin, dan bersama kita bisa menanam triliunan pohon.”

Ekonomi hijau akan menjadi jargon utama pada Konferensi Lingkungan Rio+20 di Brazil. 2012 juga akan menjadi Tahun Energi Berkelanjutan bagi Semua, dapat diakses hingga orang yang termiskin. Tujuh miliar orang memerlukan energi yang bersih untuk bisa membaca, pertanian yang berkelanjutan untuk bisa makan, dan juga kesempatan dan pekerjaan untuk hidup yang makmur dan bermartabat…

Mungkin kaleidoskop ini diproduksi sebelum meninggalnya Kim Jong-il, sehingga belum bisa memetakan secara maksimal apa yang akan terjadi di tahun ini, 2012. Pertikaian Iran dengan negara-negara yang patuh akan embargo kepada negara tersebut yang mengancam akan menutup Selat Hormuz juga sepertinya akan mewarnai panasnya politik dunia beberapa bulan ke depan. Serta apa yang menurut saya akan paling menarik untuk disimak adalah bagaimana follow-up aplikasi Palestina untuk menjadi Negara Anggota PBB, yang berarti menjadi simbol dari pengakuan negara-negara di dunia atas kedaulatan negara tersebut. We will see more exciting phenomenon in the next couples of months!