Pesan Ban Ki-moon untuk Anak Muda Indonesia!

You may have realized or seen a picture of me with the United Nations Secretary-General Mr. Ban Ki-moon during his visit to Jakarta earlier this week! It is such a great opportunity for me having served the system four couples of months and finally had a chance to meet him directly and organize a public outreach for him!

Sebuah kesempatan yang tidak pernah saya duga sebelumnya, bisa bertemu langsung dengan Ban Ki-moon, the leader of the organization that I have been serving for, a long-time inspiration for me and of course for everyone else! Just to be clear, kesempatan ini didapatkan ketika kantor saya United Nations Information Center – Jakarta memutuskan untuk mengerjakan slot media interview untuk beliau di Jakarta dan mengalokasikannya untuk wawancara khusus untuk pemuda di Indonesia bersama dengan 101.4 Trax FM Jakarta. Since then, saya diberikan tugas untuk menganalisa sekaligus mengelola semua persiapan dan pelaksanaan!

I was super excited! Hingga tidak bisa menahan animo di pencernaan saya dan sempat sakit beberapa malam di rumah.

Untuk saya, kesempatan seperti ini tidak datang dua kali dan sangat strategis karena memfokuskan interaksi Ban Ki-moon dengan pemuda (our future leaders) di Indonesia yang berjumlah 40 juta (sebanyak populasi di Kanada), dan juga mengingat animo mahasiswa dan siswa SMA di kota-kota besar sangat besar pada Model UN.

Sedikit curhat mengenai bagaimana tugas ini berdampak pada hidup saya… REALLYI can’t explain!! I am really grateful for this opportunity. It makes me so much humbled and thanks God and everyone who put the trust on me to do this! Now I am very sure why I am serving the whole world for its social development. This is what I am going to do!

Kembali ke topik dari tulisan ini, pada hari pelaksanaan kemarin, langsung dari Presidential Suite, Four Seasons Hotel, Jakarta, setelah beberapa hari tanpa istirahat mempersiapkan program ini, saya masih sibuk juga dengan menghantarkan pesan-pesan Sekjen kepada masyarakat umum mengenai feeds di media sosial. Tapi sebelumnya saya menyempatkan diri untuk menyapa, bersalaman dengan Mr. Ban, sekaligus bersama Senior Spokesperson for the Secretary-General Mr. Martin Nesirky. Kami mendiskusikan bagaimana proses wawancara ini akan berlangsung dan memilih pertanyaan yang datang dari khalayak umum. Saat itu saya diperkenalkan oleh Mr. Nesirky sebagai Mr. Twitter Indonesia ^_^;! Which I don’t think that name suits me best! Hahah 

Banyak macam pertanyaan yang dilontarkan, mulai dari isu GLBT di Rusia (that’s true! Some questions coming from abroad!) hingga komentar Mr. Ban tentang fenomena K-POP di Indonesia! These questions are mostly broad dan kurang fokus pada isu kepemudaan di negara ini. Oh well, I guess those questions are things people mostly concern about!

Akhirnya kami memilih pertanyaan mengenai konflik Israel-Palestina dan masa muda Mr. Ban sebagai pertanyaan yang terpilih, untuk disandingkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkan oleh our lovely announcer Ms. Marsha Suryawinata from Trax FM, and yes! From UNODC as well!

Then the interview started. It felt very good ketika Mr. Ban menjawab semua pertanyaan dengan bijaksana, beliau dengan tenang menjawab satu-satu pertanyaan mengenai emerging Asia hingga kesukaannya pada musik klasik. Just like other Asians, he kept his answer modestly, humbly and very positively. He is a very kind old man that we should look up to! Merupakan contoh pemimpin yang sederhana walaupun saya yakin kehidupan sehari-harinya sudah seperti conveyor belt yang berjalan tanpa henti! Sebuah afirmasi mengenai mimpi saya semenjak kuliah untuk bekerja untuk pembangunan sosial.

Satu jawaban yang membuat saya tertegun adalah ketika Mr. Ban menjawab mengenai orang yang menjadi panutannya ketika muda, yaitu Dag Hammarskjöld, Sekretaris-Jenderal PBB yang kedua, satu-satunya Sekjen PBB yang meninggal pada masa pelayanannya pada dunia. Mr. Ban mengaku mengagumi determinasinya untuk berjuang demi kemanusiaan, dan dari kecil Mr. Ban juga berjuang untuk itu karena satu panutannya. Sekarang saya sadar, bahwa hal tersebut ada, bermimpi untuk berjuang dan mengabdi pada tujuan dari organisasi ini… To be such a determined person for a good cause, for humanity. I will never doubt my aim of life anymore!

Di tulisan ini saya sebenarnya ingin menyampaikan pesan dari Mr. Ban untuk masyarakat Indonesia terutama anak muda. Beliau terus mengelu-elukan negara kesayangan kita ini karena kontribusinya pada upaya menciptakan perdamaian dalam operasi peacekeeping, sekaligus memuji Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai satu-satunya presiden yang pernah menjadi pasukan peacekeeper di masa mudanya! Satu quote yang patut diketahui bahwa 60 tahun operasi peacekeeping mengeluarkan biaya jauh lebih sedikit dibandingkan 6 minggu anggaran militer seluruh dunia!

“Indonesia is very vibrant and have a great level of tolerance! #Indonesia #Youth should be proud and lead today’s society!”

Indonesia beliau sebutkan sebagai negara yang dinamis sebagai pemimpin di antara negara-negara berkembang dan mempunyai tingkat toleransi yang sangat tinggi melihat keberagaman masyarakatnya dilihat dari suku budaya hingga agama. Ia mengutarakan bahwa sebagai masyarakat Indonesia, kita harus bangga! Dan sebagai anak muda kita harus menjadi pemimpin di masyarakat dan menjadikan kualitas negara kita sebagai modal utama dalam memimpin masyarakat dunia.

Pesan ini justru saya jadikan sebagai cambukan pemberi semangat, bahwa kita selama ini taking for granted modal yang kita punya tersebut. Kita kurang menggunakannya sebagai nilai tambah dalam berprestasi di tingkat internasional. Anak muda harus mempunyai visi dan mimpi atas apa yang mereka bisa dan mau lakukan untuk dunia. Tidak hanya berbangga, tapi menggunakan kebanggaan tersebut untuk membuat dunia menjadi lebih baik.

Oleh karena itu, mari kita sekarang bertanya, jika ada orang seperti Ban Ki-moon atau Dag Hammarskjöld yang jauh bermimpi untuk dunia yang lebih baik, apakah kita sudah menyempatkan diri untuk berpikir seperti demikian? Jika ya, apa yang sudah kita lakukan untuk dunia, sekecil apapun itu? These are just two questions that we need to answer for ourselves… Cheers!

Image

Iklan

Kaleidoskop Perserikatan Bangsa Bangsa 2011

Pada hari pertama di tahun 2012 ini, saya mencoba untuk berbagi sebuah informasi kaleidoskop yang dirilis Perserikatan Bangsa Bangsa di bulan lalu, untuk memberikan highlights dari berbagai kejadian isu global dan PBB di tahun 2011. Berikut adalah transkrip dari video kaleidoskop tersebut yang sudah saya terjemahkan secara kasar ke Bahasa Indonesia.

Tahun 2011, populasi bumi ke tujuh-miliar lahir di dunia yang penuh kontradiksi dan syarat akan perubahan ini. Terdapat ketersediaan pangan yang cukup untuk semua, namun masih ada saja satu miliar jiwa yang menderita kelaparan. Sepanjang tahun ini, masyarakat di seluruh dunia mencari kebebasan dari tekanan dan kesempatan-kesempatan hidup yang lebih baik bagi mereka dan keluarga mereka.

Ban Ki-moon, “Tujuh miliar orang kini berharap pada para pemimpin dunia. Mereka butuh solusi. Mereka menuntut kepemimpinan yang baik. Mereka ingin kita untuk beraksi, menyelamatkan bumi ini, mengentaskan kemiskinan, memajukan pembangunan ekonomi, serta berbagai perjuangan lainnya.”

Di Libya, pasukan pengamanan Kolonel Khaddafi mulai melakukan penembakan kepada para demonstran damai. Lebih dari 600.000 orang harus mengungsi dari kekacauan tersebut, dan Ban Ki-moon mendesak masyarakat internasional untuk melindungi masyarakat sipil di Libya tersebut. Ban Ki-moon dalam Dewan Keamanan, “Saya kerap menyatakan bahwa kekerasan harus dihentikan.”

Pada bulan Maret lalu, Dewan Keamanan mengesahkan sebuah resolusi dengan 10 suara menyetujui dan 5 abstain, untuk melaksanakan berbagai langkah yang diperlukan untuk mencegah serangan lainnya dan hilangnya nyawa masyarakat sipil di Libya. Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB, Susan Rice, “Dewan Keamanan telah mengesahkan penggunaan aksi militer, termasuk pengabsahan no-fly zone, untuk melindungi masyarakat sipil.”

Segera setelahnya, NATO melakukan pengeboban, dan berbagai agensi kemanusiaan PBB mengirimkan bantuan-bantuan yang penting bagi masyarakat sipil. Dengan angka korban yang terus meningkat, Duta Besar Rusia untuk PBB, Vitaly Churkin, “segala aksi yang melebihi mandat pada resolusi (tersebut) atau ketidaksesuaian penggunaan aksi militer tidak bisa diterima.

Di bulan Oktober, masyarakat Libya menyaksikan kematian diktator Libya dan merayakannya dengan tembakan senjata dilatari oleh hancurnya kota dan sesaknya rumah sakit oleh masyarakat yang terluka. Sekretaris-Jenderal PBB dan Presiden Majelis Umum, Nassir Abdulaziz Al-Nasser, berkunjung ke Libya. Ban Ki-moon, “Jalan ke depan bagi Libya dan masyarakatnya akan sulit dan penuh tantangan. Sekarang adalah saatnya bagi seluruh masyarakat Libya untuk bersatu.”

Di Suriah, tekanan diberikan pada Presiden Al-Assad untuk mundur setelah ribuan orang terbunuh pada demonstrasi pro-demokrasi. Majelis Umum menyetujui sebuah resolusi yang menyalahkan Suriah atas tindak kekerasan yang terjadi dan menyerukan pada pemerintah Suriah untuk menghentikan segala tindakan yang mengekang hak asasi manusia.

Masyarakat di Ramalah bersorak sorai di jalanan setelah mendengar berita bahwa Presiden mereka Mahmoud Abbas telah memberikan pendaftaran Palestina untuk mendapatkan keanggotaan penuh PBB kepada Ban Ki-moon. Mahmoud Abbas dalam Majelis Umum, “Setelah 63 tahun tragedi, cukup, cukup, cukup! Kita telah sampai pada (kebangkitan) Palestina, waktu untuk kemerdekaan.”

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, “Kita harus berhenti menegosiasikan negosiasi. Marilah kita segera maju, dan menegosiasikan perdamaian.” Namun pada saat itu di lapangan, di wilayah Palestina, penghancuran komplek perumahan untuk pembangunan gedung tempat tinggal Israel terus berlanjut.

UNESCO memberikan keanggotaan penuh kepada Palestina. “Keputusan ini berlaku.” Menyebabkan mundurnya Amerika Serikat dari pembiayaan organisasi tersebut, perwakilan Amerika Serikat “… sebagai simbol dari penentangan kami yang kuat atas resolusi ini.”

Pada bulan Juli, sebuah negara baru Sudan Selatan menjadi Negara Anggota PBB ke-193. Setelah puluhan tahun perang sipil di negara terbesar Afrika tersebut, PBB membantu mengadakan sebuah referendum antara penyatuan atau pemisahan. Di umurnya yang melebihi 100, Rebecca Kadi adalah salah satu yang paling tua yang mengikuti referendum tersebut. Cucu dari Rebecca Kadi, “Ia bilang pada saya setelah referendum, jika saya mati, saya akan sangat bahagia karena telah menyelesaikan semua.” Lebih dari 99% mendukung pemisahan diri, dan pada 9 Juli, negara baru ini lahir.

Ban Ki-moon di Dewan Keamanan, “Sebagaimana sebuah negara baru, Sudan Selatan membutuhkan bantuan. Bersama-sama, Selatan dan Utara harus menemukan kesamaan satu sama lain di masa depan sebagai rekan, bukan musuh.” Namun, ketegangan masih terus terjadi di wilayah perbatasan. 4200 pasukan Ethiopia disahkan oleh Dewan Keamanan sebagai pasukan penjaga perdamaian di lokasi.

Di tahun 2011, lebih dari 120.000 pasukan penjaga perdamaian PBB diutus ke 16 misi di 4 benua. Puluhan meninggal pada saat bertugas. Di Afghanistan, tujuh staf PBB terbunuh ketika 3000 orang melakukan protes terhadap pembakaran Al-Quran di Amerika Serikat, dan berakhir ricuh. Beberapa hari setelagnya, sebuah pesawat jatuh di Republik Demokratis Kongo dan menewaskan 35 personil PBB. Serta di Nigeria, 18 orang terbunuh akibat serangan teroris di kantor PBB di Abuja.

Pada pemilu presiden di Liberia, misi PBB mengirimkan pasukan darat dan udara untuk meningkatkan keamanan dan melindungi masyarakat sipil. Walaupun terdapat konflik didalamnya, para pemilih tetap melakukan pemilu. Presiden Ellen Johnson Sirleaf tidak hanya terpilih kembali, namun ia juga memenangkan Nobel Perdamaian bersama tiga aktivis perempuan lainnya.

Penangkapan mantan presiden Pantai Gading Laurent Gbagbo di bulan April dan juga penangkapan mantan Jenderal militer Serbia Bosnia di bulan May, membuktikan bahwa era impunitas telah berhasil, memperlihatkan kekuatan dari hukum internasional.

Haiti perlahan membaik dari epidemi besar kolera. Satu tahun setelah gempa besar, 40% dari 10 juta meter kubik reruntuhan telah disingkirkan. Program Pembangunan PBB (UNDP) dan agensi PBB lainnya, menciptakan lapangan pekerjaan untuk membangun rumah-rumah dan sekolah. UNICEF membawa suplai bagi 140.000 anak-anak untuk bisa bersekolah. Presiden Haiti, Michel Martelly, “Perlahan, kita akan lebih maju dan membawa anak-anak kita ke sekolah tanpa biaya.”

Thailand didera banjir terparah dalam 70 tahun. Hujan lebat yang jarang turun sebelumnya menyebabkan sebagian daerah negara tersebut kebanjiran, termasuk Bangkok.

Sebuah laporan yang dirilis Panel Antarpemerintah untuk Perubahan Iklim memperingatkan bahwa pemanasan global akan menyebabkan cuaca yang ekstrim, dan berarti lebih banyak banjir, gelombang panas, dan kekeringan.

Di Somalia, perang dan kekeringan terparah selama dekade sangat membahayakan satu juta setengah orang. Program Pangan Dunia (WFP) membangun pusat pemberian pangan untuk jutaan orang yang membutuhkan. Direktur Eksekutif WFP, Josette Sheeran, “Memang hal ini sangat bahaya dan beresiko, namun kami perlu menggapai orang-orang (yang membutuhkan).”

Ratusan ribu masyarakat Somalia harus berpergian ke Kenya selama berminggu-minggu, namun banyak yang tidak berhasil (dan meninggal). Kamp Pengungsi Dadaab, terbesar di dunia, berubah menjadi kota terbesar ketiga di Kenya, dengan hampir setengah juta warganya. Agensi pengungsi PBB UNHCR membawa ribuan tenda untuk pengungsi melalui udara.

Kelaparan telah melanda Somalia, namun akibat dari kekeringan melanda seluruh semenanjung Timur Afrika. Para petani kehilangan setengah dari hewan ternaknya, serta kehabisan bahan pangan. Helen Akai, “Kami hanya bisa hidup dari buah pohon palem, tidak ada lagi hal lainnya yang bisa dimakan.” UNICEF menambah akses terhadap air dan nutrisi, namun perencanaan dan investasi adalah hal-hal yang diperlukan untuk membentuk ketahanan pangan.

Planet ini seharusnya bisa dengan mudah memberikan makan tujuh miliar orangnya, namun jutaan orang masih saja kelaparan. Harga pangan yang tinggi dan tidak bisa diprediksi telah berdampak pada negara-negara miskin, terutama selama krisis ekonomi global. Kordinator Penanganan Kedaruratan PBB, Valerie Amos, berkunjung ke Korea Utara, di mana sepertiga anak-anaknya mengidap kekurangan gizi kronis.

25 tahun setelah Chernobyl, sebuah tragedi di Jepang menimbulkan banyak dampak buruk. Sebuah gempa berkekuatan 9 SR yang juga memicu tsunami, telah merusak reaktor nuklir Fukushima dengan parah. Para pekerja yang sangat berdedikasi berupaya untuk mencegah dampak yang lebih parah, namun area yang cukup luas tetap terkontamintasi dengan menyebarnya radiasi. Hal ini lalu diperhitungkan pada instrumen sensitif CTBT, Organisasi Traktat Pelarangan Tes Nuklir PBB. Para ahli dari Agensi Energi Atom Internasional (IAEA) mendesak Jepang untuk mengamankan wilayah permanen untuk menampung limbah radioaktif.

Ketika mengunjungi para korban, Ban Ki-moon berjanji untuk menempatkan keamanan nuklir sebagai prioritas utama dalam agenda internasional, “Kecelakaan nuklir terjadi tanpa batasan, kita harus melihat keamanan nuklir sepenting senjata nuklir.”

Ketegangan atas ambisi nuklir Iran juga terus meningkat, semenjak IAEA melaporkan bahwa negara tersebut tengah mengerjakan sebuah desain bom nuklir dan mungkin masih melakukan penelitian rahasia.

Setelah terpilih kembali sebagai Sekretaris-Jenderal dimulai dari tahun 2012, Ban Ki-moon mendeklarasikan bahwa pembangunan berkelanjutan yang bisa mengentaskan kemiskinan dan menjaga lingkungan, sebagai prioritas utamanya. Seorang aktivis lingkungan berusia 13 tahun, Felix Finkbeiner menyerukan kepada para politikus untuk berhenti berbicara dan mulai menanam, “Sekarang adalah waktunya untuk kita bekerja bersama, menyatukan kekuatan, tua dan muda, kaya dan miskin, dan bersama kita bisa menanam triliunan pohon.”

Ekonomi hijau akan menjadi jargon utama pada Konferensi Lingkungan Rio+20 di Brazil. 2012 juga akan menjadi Tahun Energi Berkelanjutan bagi Semua, dapat diakses hingga orang yang termiskin. Tujuh miliar orang memerlukan energi yang bersih untuk bisa membaca, pertanian yang berkelanjutan untuk bisa makan, dan juga kesempatan dan pekerjaan untuk hidup yang makmur dan bermartabat…

Mungkin kaleidoskop ini diproduksi sebelum meninggalnya Kim Jong-il, sehingga belum bisa memetakan secara maksimal apa yang akan terjadi di tahun ini, 2012. Pertikaian Iran dengan negara-negara yang patuh akan embargo kepada negara tersebut yang mengancam akan menutup Selat Hormuz juga sepertinya akan mewarnai panasnya politik dunia beberapa bulan ke depan. Serta apa yang menurut saya akan paling menarik untuk disimak adalah bagaimana follow-up aplikasi Palestina untuk menjadi Negara Anggota PBB, yang berarti menjadi simbol dari pengakuan negara-negara di dunia atas kedaulatan negara tersebut. We will see more exciting phenomenon in the next couples of months!

Perspektif dalam Memandang Perserikatan Bangsa Bangsa

Markas Besar PBB di New York

Markas Besar PBB di New York, un.org

Perhaps you guys are wondering why I named my new blog as “Saya untuk PBB”. Selain karena belakangan ini cukup sibuk membantu mengasuh social media untuk meningkatkan eksistensi Perserikatan Bangsa Bangsa di dunia online di Indonesia, memang sudah menjadi ketertarikan saya dari kecil untuk berkecimpung dalam sistem organisasi internasional terbesar yang memfasilitasi kerja sama antarnegara untuk membuat dunia menjadi “lebih baik” ini. Selain itu saya berpikir memang sudah saatnya ada kelompok pemerhati PBB yang sekiranya bisa menjembatani antara sistem yang luas ini, kinerja PBB tersebut sendiri dan masyarakat Indonesia.

Pengalaman saya magang di United Nations Information Centre (UNIC) di Jakarta selama tujuh bulan, bukanlah pengalaman yang tanpa proses pembelajaran. Saya bersyukur bisa menjadi bagian kecil dari sistem yang sering dianggap orang ‘maha tinggi’ ini, seperti sesuatu yang sulit untuk diraih ataupun mengena di kehidupan kita sehari-hari. Belum lagi daftar yang termasuk panjang, atas konferensi-konferensi Model United Nations yang pernah saya ikuti maupun saya selenggarakan, membuat saya merasa wajib untuk berbagi perspektif mengenai bagaimana seharusnya kita memandang organisasi yang eksistensinya dimulai setelah berakhirnya Perang Dunia ke-II ini.

Ketika saya magang di bulan Oktober kemarin, saya ditugasi untuk mengkordinasikan sebuah kampanye edukasi berjudul UN4U (baca: UN for You), itung-itung sebagai satu bentuk kontribusi saya untuk mengsinergiskan upaya pembangunan sosial yang dilakukan oleh organisasi ini. [UN4U adalah maraton seminar mengenai sistem PBB untuk mahasiswa dan akademisi yang diselenggarakan bertepatan dengan HUT PBB, informasi lebih lanjut ada di sini]. Dari situ saya banyak sekali mendengar dan meresapi berbagai pertanyaan dan pernyataan, yang menujukkan ketidaksinkronan persepsi dan pengetahuan masyarakat mengenai PBB. Menyimpulkan secara ringkas, beberapa pernyataan yang paling sering keluar adalah (1) PBB gagal memfasilitasi perdamaian di Palestina, [yang biasanya diikuti dengan kepalan tangan dan ucapan-ucapan untuk menyelamatkan Palestina]; (2) PBB tidak peduli terhadap permasalahan TKI yang menderita dan terancam hukuman mati di Arab Saudi maupun Malaysia [waktu itu masalah ini sedang marak sekali]; dan yang membuat saya tersenyum adalah (3) UN4U bukanlah UN for You melainkan UN4U adalah UN for USA, menunjukkan pesimisnya sekelompok masyarakat atas sistem yang mereka anggap sebagai perpanjangan tangan dari satu negara adikuasa.

Terlepas dari gagalnya proses perdamaian Israel-Palestina, terlepas dari bagaimana permasalahan TKI diselesaikan, terlepas dari besarnya dominasi Amerika Serikat, yang saya ingin angkat di tulisan ini bukan mengenai bagaimana akhirnya kita menilai peran PBB dalam berbagai isu tersebut, namun bagaimana pada dasarnya dan bagaimana seharusnya kita membentuk subjek PBB dalam pernyataan tersebut. Saya jadi ingat salah satu teman baik saya Ranaditya ketika menjadi moderator workshop IndonesiaMUN tahun 2010 lalu yang melontarkan pertanyaan untuk diskusi mengenai pandangan bahwa PBB itu ompong (toothless). Saya tidak terlalu ingat bagaimana akhirnya diskusi tersebut berjalan, namun pertanyaan tersebut saya coba analisa sepanjang perjalanan saya mencoba lebih dekat dan mempelajari sistem PBB ini.

Mari kita runut satu organ paling besar di dalam PBB yang memproduksi paling banyak resolusi sebagai basis (tidak mengikat) atas tindakan-tindakan negara-negara anggota PBB, yaitu Majelis Umum. 193 negara anggota yang berada di dalam Majelis Umum masing-masing setara mempunyai 1 suara dalam sistem voting, serta masing-masing berhak menyatakan pendapat. Dari Rusia hingga Sudan Selatan bisa mengangkat isu-isu yang menjadi concern mereka.

Suasana Sidang Majelis Umum PBB

Suasana Sidang Majelis Umum PBB, un.org

Sebelum melanjutkan, sepertinya kita harus mengenyampingkan untuk sementara keberadaan P5 sebagai anggota tetap Dewan Keamanan PBB dan kepemilikan mereka atas hak veto dalam analisa ini. Saya harus percaya dan merelasikannya pada teori Darwin mengenai survival of the fittest. Paling tidak sebagai analogi atas keberadaan dan kehebatan historis lima negara anggota tetap yang dahulu memenangkan Perang Dunia ke-II. Saya harus menganggapnya adil dalam bentuk ketidakadilan who wins got the control. Namun optimisme tetap ada di sini, karena kita tidak tahu penuh mengenai kemungkinan-kemungkinan yang ada di masa depan dalam bentuk kerja sama multinasional ini.

Kembali ke analisa kita. Jika ingin disederhanakan sistem dalam Majelis Umum bisa dikaitkan dengan musyawarah, yaitu berunding, mengatakan dan mengajukan sesuatu. Hanya saja di Majelis Umum ini segala resolusi harus melalui voting untuk diabsahkan, sederhana karena sifatnya lebih praktis dan menghemat waktu. Bayangkan apabila 193 negara anggota yang mewakili 7 miliar masyarakat dunia harus berkonsolidasi untuk mencapai satu suara, mungkin hingga sekarang kita tidak akan pernah menikmati fasilitas kesehatan dan teknologi farmasi yang maju di mana regulasinya ditetapkan oleh WHO misalnya. Dari sini saja seharusnya kita sudah tahu bahwa PBB itu bukanlah sebuah entitas, melainkan sebuah sistem [ini merupakan penjelasan mengapa saya menggunakan banyak kata sistem pada penjelasan awal saya di atas]. Sudah sepatutnya kita memandang PBB bukan sebagai world government, melainkan kita melihatnya sebagai sebuah sistem bertemunya negara-negara untuk bekerja sama dalam menyelesaikan berbagai masalah di dunia.

Jika sudah melihat PBB sebagai sistem, berarti kita menyadari bahwa negara-negara anggota lah yang membentuk sistem tersebut, dan bahwa kita lah yang akhirnya membentuk sistem tersebut. Jika kita membaca piagam PBB, 3 kata pertama yang ada di pembukaannya adalah We the peopleyang menunjukkan bahwa kita lah yang megang sistem ini. Beruntung kita berada di dalam sebuah demokrasi, jalan untuk benar-benar memperkuat sistem PBB sudah tersedia. (Kita akan membahas bagaimana memperkuat PBB di akhir tulisan).

Sekarang kita menganalisa masalah ke-ompong-an PBB. Menurut saya kita sedang dalam proses, dan proses terjadi semakin lama karena kita tidak sadar apa hakikat dan bagaimana cara bekerja sistem ini. Bayangkan jika ada 193 individu yang harus berembuk, betapa akan sulitnya untuk mencapai satu keputusan. Apalagi jika ada 7 miliar orang yang harus di bawa oleh 193 negara anggota ke Majelis Umum, pasti akan ada apa yang dinamakan sebagai clash of interests. Negara itu memiliki sifat alami manusiawi dengan segala keserakahannya di mana masing-masing berupaya untuk memenangkan kepentingannya sendiri. Walaupun tujuan PBB adalah untuk menjaga perdamaian dunia, tetapi jika ada satu negara yang terganggu dengan salah satu cara untuk menjaga perdamaian tersebut, maka belum tentu negara tersebut mendukung penuh upaya pencapaian tujuan perdamaian. Contoh dalam hal mikro yang sederhana, warga di sebuah kelurahan berembuk untuk menyelesaikan masalah maraknya tindakan kriminal di daerah tersebut dan mendukung salah satu cara untuk menyewa penyidik swasta, sehingga mewajibkan masing-masing kepala keluarga untuk berkontribusi sejumlah uang. Namun ada satu kepala keluarga yang berpendapat bahwa dana penyewaan penyidik swasta bukan menjadi prioritas pengeluaran keluarganya karena dibutuhkan untuk membangun bisnis keluarga. Silahkan tebak sendiri apa yang akan terjadi dalam rembukan tersebut?

Jika lalu dihubungkan dengan kepentingan 193 negara, sebuah kesulitan tingkat tinggi untuk setuju secara menyeluruh atas sebuah resolusi. Belum lagi setelah resolusi itu diabsahkan, masih harus melalui proses implementasi yang panjang dan bergantung pada komitmen masing-masing negara anggota dalam menjalankannya. Kurangnya implementasi bisa berawal dari mana saja, di mulai dari kapasitas negara anggota yang tidak memadai, hingga negara anggota yang merasa tidak berkepentingan atas resolusi yang telah diabsahkan. Hal ini yang menjelaskan mengapa PBB sering dinilai ompong, serta menjelaskan mengapa resolusi PBB hingga pada klausa-klausa yang membentuknya terlihat luas ataupun ambigu.

This is a complex system, namun optimisme harus tetap ada. Paling tidak, bukankah sistem ini adalah sistem yang terbaik untuk saat ini dalam bekerja sama membuat dunia yang lebih baik?

Tulisan ini bisa menjadi acuan awal bagaimana kita bisa memperkuat sistem PBB. Seringkali masyarakat salah persepsi tentang bagaimana memperjuangkan nilai-nilai yang mereka miliki pada tataran permasalahan global. September lalu ketika sidang Majelis Umum ke-66 berlangsung, di mana Presiden Palestina Mahmoud Abbas secara resmi “melamar” untuk menjadikan Palestina sebagai salah satu negara anggota PBB, terdapat sekelompok masyarakat yang datang ke kantor PBB di Jakarta untuk menuntut diterimanya “lamaran” tersebut. Tentu tindakan yang dilakukan tersebut tidaklah tepat. Di negara Indonesia yang demokratis, langkah yang seharusnya dilakukan tentu melalui proses penyuaraan aspirasi ke badan legislatif yang selanjutnya memberikan kewenangan pada badan eksekutif untuk mewakilkan suara tersebut pada Majelis Umum maupun Dewan Keamanan PBB (ketika menjadi anggota).

Penyampaian Aspirasi Masyarakat Indonesia akan Permasalahan Palestina

Penyampaian Aspirasi Masyarakat Indonesia akan Permasalahan Palestina, rudal-banten

Hal ini berlaku juga dalam penyuaraan kepedulian kita terhadap permasalahan dunia lainnya. Sekali lagi, this is a complex system, namun optimisme harus tetap ada. Selama ini kita langsung pesimis dan menjadi geram karena kita menanggap PBB sebagai entitas dan pasrah karena salah berpikir seakan tidak ada yang bisa dilakukan oleh masyarakat pada sistem ini. Tendensi masyarakat kini adalah untuk menyalahkan PBB, padahal kita hanya tidak sadar bahwa andil kita besar dalam penentuan kebijakan yang tercatat pada berbagai resolusi PBB.

Satu percakapan yang saya lakukan dengan teman sekaligus yang akhir-akhir ini menjadi “guru” PBB saya, memberikan satu input baru mengenai pandangan negara-negara anggota terhadap isu perspektif yang salah dalam masyarakat. Ia melihat bahwa negara-negara anggota cenderung tidak acuh atas permasalahan ini karena justru diuntungkan (dalam hakikatnya sebagai satu negara yang melindungi kepentingannya) dan menyederhanakan permasalahan hingga berakhir pada penyalahan publik pada PBB, yang pada akhirnya mereduksi potensi sistem PBB yang saya percaya sebagai sistem terbaik yang kita punya saat ini.

Sekarang tidak ada alasan lagi untuk merasa jauh ataupun tidak mempunyai andil. Seperti sebuah tagline yang dipromosikan oleh UNFPA pada peringatan populasi dunia yang mencapai 7 miliar bulan Oktober lalu: Because everyone counts.

Kembali menulis!

Sebenarnya saya jarang sekali menulis, mungkin akibat dari ketidaksukaan saya atas kegiatan membaca. Rasanya sulit untuk tenang duduk dan konsentrasi untuk menyerap isi dari buku dengan ratusan halaman berisikan kalimat-kalimat yang memberikan impresi menjemukan. Namun akhir-akhir ini kok saya sering ditampar karena seperti tidak ada proses input – output yang paling old fashioned dalam kehidupan sehari-hari saya. Well, mencoba untuk keluar dari pemikiran self-sufficient dan practical tersebut, kini saya mau sekali lagi mencoba untuk menulis setelah beberapa tahun lalu pernah punya blog bernama indonesiamaju. Mungkin spirit tulisan saya kali ini lebih dewasa, beriringan dengan umur yang memang hampir mencapai seperempat abad (seperti dipaksa untuk lebih bijak)…